Sejarah Islam Di Mongolia Dan Penaklukannya

Sejarah Islam Di mongolia Dan Penaklukannya.Mongolia adalah sebuah negara di sebelah utara Cina yang berbatasan dengan wilayah Siberia Rusia, hampir 80% wilayah Mongolia adalah Gurun Gobi, yaitu sebuah bentangan tanah luas yang minim pepohonan. Pernah melihat film berjudul Babyyang salah satu adegannya juga meliput kehidupan bayi di Mongolia yang bernama Bayar, ya itulah sekilas tentang penduduk Mongolia yang rumahnya seperti tenda buat kemah.
Menurut ilmu Antropologi Mongolia termasuk ras Mongoloid, yang tersebar di Asia Timur, Asia Tenggara, Amerika, dan Kutub Utara.

Harun Yahya membuat silsilah Bangsa Mongol, menurutnya Bangsa Mongol adalah keturunan dari Maghuh bin Yafits ( anak sulung Nabi Nuh As ), yang mempunyai banyak anak salah satunya adalah Shin bin Maghuh yang menurunkan Bangsa Cina, Korea dan Jepang. Beberapa keturunan Maghuh bin Yafits menurunkan berbagai bangsa seperti bangsa Melayu ( Malaysia dan Indonesia), Indian di Amerika dan Eskimo di Kutub Utara. dan keturunan lain menurunkan bangsa Ya’juj Ma’juj yang akan keluar di akhir jaman, wah kita ternyata masih saudaraan dengan bangsa Ya’juj Ma’juj, yah.

 Sejarah Islam Di Mongolia Dan Penaklukannya

Sejarah mongolia bangsa pengrusak dan penghancur

Mungkin tidak banyak yang tahu seperti apa  Negara mongolia  yang beribukota di Ulan Bator saat ini, karena peran negara ini di kancah internasional saat ini sangatlah minim, sehingga minim pemberitaan.

Namun itu sekarang, tetapi coba tengok 8 abad yang lalu tepatnya pada abad ke 13, siapa yang menyangka saat itutahun 1174 lahir seorang anak dari bangsa Mongol yang bernama Temujin. Setelah dewasa Temujin berhasil menyatukan seluruh suku-suku yang ada di Mongolia dalam satu pemerintahan yang diperintah olehnya, dia kemudian diberi gelar nama yaitu Jengis Khan pada tahun 1206.

Jengis Khan tidak puas dengan itu semua, persatuan Bangsa Mongol hanyalah permulaan, tujuan utamanya adalah menguasai dunia, kemudian mulailah ekspansi besar-besaran Bangsa Mongol.

Negeri Cina yang pertama menjadi korban keserakahan Jengis Khan, seluruh daratan Cina berhasil dikuasai pasukan Mongol yang dipimpin Jengis Khan, dan menumbangkan Dinasti Songdan disempurnakan oleh cucunya Kubilai Khan tahun 1279, serta mendirikan Dinasti Yuan tahun itu juga. Pasukan Mongol bergerak ke arah timur menaklukan Manchuria ( Semenanjung Korea ), lalu Jepang. Kemudian bergerak ke arah selatan menaklukan kerajaan Yunan, Myanmar, dan terus melaju ke selatan menyerang langsung pusat Kerajaan Singasari di Jawa Timur, namun hanya sebentar, karena Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Mongol ( Tartar ) dari Nusantara.

Di bawah kepemimpinan Hulaku Khan, pasukan Mongol bergerak ke arah barat, membantai rakyat negeri-negeri yang dilewatinya, terus menguasai India, Afganistan, dan bergerak terus mengalahkan Kesultanan Khurasan, dan Persia. Kaum muslim yang saat itu sedang dalam keadaan terpecah belah akibat tidak tunduk sepenuhnya pada Pemerintahan Khilafah Islam di Baghdad, tidak mampu membendung serangan bangsa Mongol yang sangat bengis. Bahkan penduduk kota Herat di Afganistan hanya tersisa sembilan orang saja yang berhasil bertahan hidup, seperti yang dituturkan oleh sejarahwan Mike Edward di National Geographic.

Menguasai baghdad

Tahun 1258, Hulako Khan berhasil menumbangkan pemerintahan Khilafah Bani Abasiyah di Baghdad, membantai jutaan kaum muslim di sana, hanya beberapa saja yang selamat dari kekejaman tantara Barbar Mongol ( Tar tar), selain menghancurkan kota Baghdad, tentara Mongol juga membakar dan membuang buku-buku ilmu pengetahuan yang berada di perpustakaan Baghdad, saat itu banyak koleksi berharga ilmu pengetahuan hilang begitu saja. Serangan Bangsa Mongol digambarkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai kengerian yang luar biasa, dan sulit diterima akal sehat. Ibnu Taimiyah adalah salah seorang yang selamat dari serangan tentara Mongol, beliau dan keluarganya berhasil melarikan diri ke Mesir.

Pasukan Mongol terus bergerak ke arah Palestina, namun dihadang oleh tentara Mamluk dari Bani Mamalik yang dipimpin Muzafar Al Qutus di Ain Jalut, bersama Ibnu Taimiyah, Al Qutus berhasil menghadang dan menggagalkan serangan Mongol ke Palestina dan Mesir.

Pasukan Mongol berhenti menyerang kaum muslim setelah kalah telak di Ain Jalut. Namun di sisi lain arah tenggara mereka terus melakukan serangan ke Eropa, mengalahkan kerajaan Rusia, terus bergerak menguasai Eropa Timur, mengalahkan bangsa Viking di Swedia, tentara-tentara Eropa tumbang setelah kalah melawan tentara kuda Mongol yang lebih pendek dan kecil namun sangat gesit, sehingga seluruh Eropa Timur dikuasai Mongol.

Masuk Islam

Yah itu semua memang adalah kehebatan bangsa Mongol, mereka mampu hampir saja menguasai dunia, dengan kehebatan militernya yang luar biasa. Setelah berhasil menguasai hampir seluruh benua Asia dan sebagian Eropa, gerakan tentara Bangsa Mongol mulai mengendur.

Terlepas dari kemampuan militernya yang hebat, Mongol tidak menonjol secara kebudayaan. Walaupun para pemimpin Mongol mengundang para ahli ke pusat pemerintahannya untuk membangun negeri itu, tetapi bangsa Mongol sendiri tidak tampil sebagai ilmuwan, sastrawan, atau arsitek. Mereka tetap memainkan peran yang sama sebagaimana sebelumnya, yaitu sebagai tentara dan penunggang kuda yang tangguh. Kekosongan di lapangan peradaban otomatis diisi oleh bangsa-bangsa lainnya, dan kaum Muslimin memiliki peranan yang besar dalam hal ini.

Kemudian mulailah para pimpinan Bangsa Mongol di daerah-daerah yang ditaklukan seperti di timur tengah masuk Islam, dan pada akhirnya mayoritas pasukan Mongol yang menguasai daerah di timur tengah pun masuk Islam. Mereka kagum dengan budaya mulia Islam, dengan ilmu pengetahuannya, dengan sistem hukumnya, ekonominya serta Ideologinya yang sangat maju. Para pemimpin inilah yang akhirnya melepaskan diri dari kekuasaan Imperium Mongol dan justru tunduk pada kekuasaan Khilafah Islam di Mesir. Para penguasa daerah taklukan Mongol akhirnya mendirikan Kesultanan Mongol seperti di India, dan Turki.

Bahkan Berke Khan seorang penguasa Mongol di Turki ( Golden Horde ) justru menyerang tentara Mongol pimpinan Hulaku Khan yang hendak menyerang Palestina kembali setelah kalah di Perang Ain Jalut. Walaupun Berke Khan dan Hulakhu Khan adalah saudara, tetapi Berke Khan lebih mencintai Islam dan kaum muslim dari pada Bangsa Mongol.

Muslim Keturunan Kazakh Mongol di Kazakhstan

Di Wilayah bekas kekuasaan Hulaku Khan justru berdiri Kesultanan Mongol yang memerintah hingga akhir abad 18 dari wilayah India, Pakistan, Afganistan, Kazakhstan, Uzbek dan lainnya, salah satu Sultan yang terkenal adalah Sultan Akbar Khan, yang merupakan keturunan India Mongol. Dan nama-nama Mongol di India juga identik dengan Islam, seperti Syahrukh Khan, Amir Khan, mereka adalah muslim dan mereka adalah keturunan Mongol India. Pernah nonton film My name is Khan yah itu adalah nama Muslim dari India. Beberapa keturunan Mongol nantinya juga menurunkan bani Utsmani yang nantinya mengambil alih pemerintahan Khilafah Islam, yaitu Khilafah Utsmaniyah. Muhammad Al Fatih juga masih punya darah Mongol.

Di Cina, saat Dinasti Yuan yang merupakan Dinasti Mongol berkuasa, justru Islam berkembang sangat pesat. Orang-orang Arab dan Uighur yang beragama Islam serta mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi maju di rekrut oleh pemerintah Yuan untuk membangun Cina, dan ini adalah kesempatan bagi mereka untuk berdakwah.

Imferium Mongolia Akhirnya Ruksak

Setelah para pasukan dan pimpinan Mongol di timur tengah masuk Islam, maka akhirnya kekuatan Imperium Mongol pun rontok satu per satu. Kekuasaan Mongol di Eropa berhasil direbut kembali oleh bangsa-bangsa Eropa karena tidak ada dukungan dari Timur Tengah, sedangkan di Timur Tengah para penguasa Mongol melepaskan diri dari Imperium Mongol karena tunduk pada Islam. Dan puncaknya adalah kekuatan terakhir Imperium Mongol yaitu Dinasti Yuan di Cina, dikudeta oleh kaum muslim dan rakyat Cina.

Akhirnya Dinasti Yuan pun tumbang pada tahun 1358 setelah menguasai Cina selama 89 tahun ( 1279-1558 ) dan berdirilah Dinasti Ming, dan saat itu juga ekonomi dan politik Cina dikuasai kaum Muslim, dan Islam mewarnai segala aspek kehidupan di Cina, menurut catatan sejarah ada banyak Kaisar Dinasti Ming yang Muslim, ada juga yang menyebutkan semua Kaisar Dinasti Ming adalah Muslim, dan ada Juga yang menyebut bahwa kata Ming terinspirasi kata Madinah Al Munawarah, yang artinya adalah Kejayaan dan kegemilangan.

Kesimpulan

Memang secara Militer Bangsa Mongol saat itu unggul dan luar biasa, serta memperoleh kemenangan yang berturut turut sepanjang perjalanannya menaklukan negeri-negeri yang dilewatinya.

Namun secara Ideologi, bangsa Mongol bukanlah apa-apa, mereka justru kalah ketika menghadapi Ideologi Islam yang saat itu diterapkan secara Kaffah oleh negara Khilafah Islam, bangsa Mongol harus menerima kenyataan bahwa disamping kehebatan tentaranya mereka tidak lebih dari sebuah bangsa primitif yang tidak mempunyai Ideologi dan Ilmu Pengetahuan yang hebat, yang justru mereka butuhkan untuk bekal berkuasa.

Masjid Di Mongolia

Demikian informasi sejarah islam di Mongolia, Akhirnya mereka harus menerima kenyataan yaitu menyerah kalah pada serbuan Islam secara pemikiran, dan akhirnya mereka masuk Islam dengan sukarela dan senang hati. Jadi jika kesimpulan di atas dihubungkan dengan kenyataan umat Islam saat ini adalah, bahwa umat Islam sebenarnya sangat banyak dan sangat kuat secara militer. Namun Umat Islam kalah secara Ideologi, karena Ideologi Islam yaitu Syariat Islam tidak ditegakkan, dan Institusi Negara Khilafah Islam yang akan mempersatukan kaum Muslim seluruh dunia tidak ada. Sehingga dengan sendirinya banyak kaum muslim yang membebek pada gaya hidup dan idiologi kafir barat, Artikel terkait admin sajikan tentang bacaan sholat 5 waktu, semoga bermanfaat.

Sejarah Perang Salib Pertama Dan terakhir

Sejarah Perang Salib Pertama Dan terakhir.Sampai abad ke-11 m  di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.

Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim-yang menguasai Palestina saat itu-menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali,” kata Paus.

Sejarah Perang Salib Pertama Dan terakhir

Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja untuk perang salib di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan-terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil-untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)

Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.

Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria) pada tanggal 3 Juni 1098.

Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187, Shalahuddin Al Ayyubi dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Laporkan iklan?

Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.

Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib-tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa. Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan Richard “Si Hati Singa”.

Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama.

Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.

Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ‘alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.

Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya.

Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. dalam gencarnya perang salib kami tuliskan juga catatan sejarah terpenting islam di mongolia dan beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib, artikel terkait admin sajikan juga tentang bacaan sholat 5 waktu semoga bermafaat.

Sejarah Runtuhnya Islam Dan Bangkitnya Keristen Di Granada Sepanyol

Sejarah Runtuhnya Islam Dan Bangkitnya Keristen Di Granada Sepanyol. Beberapa fakta sejarah kelam kekejaman kaum Kristen terhadap umat Islam di Andalusia pasca Reconquista (Penaklukan oleh kaum Kristen Katolik). Dan semua kegelapan umat Islam Andalusia itu dimulai pada saat jatuhnya Granada oleh kekuatan kaum Kristen Katolik di bawah Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Castilla.

Benteng terakhir kekuasaan Islam di Andalusia (Spanyol) setelah seluruh wilayah jatuh ke tangan kaum Kristen Katolik berada di Granada. Pada akhir kekuasaan Islam di Andalusia, Granada berada di bawah kuasa Bani Ahmar (referensi lain menyebut Bani Nashri). Penguasa Granada saat itu berada di bawah kepemimpinan Sultan Abu Abdullah bin Abil Hasan (atau disebut dengan Boabdil dalam aksen Eropa). Ia juga disebut dengan Sultan Muhammad XII.

Kondisi umat Islam pada saat itu benar-benar sangat memilukan. Hampir seluruh umat Islam di Andalusia mengungsi ke wilayah Granada karena di sini lah satu-satunya wilayah yang masih berada dalam kekuasaan Islam

Sejarah Runtuhnya Islam Dan Bangkitnya Keristen Di Granada Sepanyol

Pada mulanya, dengan kekuatan umat Islam yang cukup besar di wilayah Granada, umat Islam bisa mempertahankan wilayah ini dari serangan kaum Kristen Katolik. Namun kekuatan umat Islam pada akhirnya melemah saat terjadi perselisihan -yang seharusnya tidak perlu terjadi- antara penguasa Granada Abu Abdullah bin Abil Hasan dengan pamannya, Azzaghel. Keduanya berselisih di saat umat Islam tengah dikepung oleh kekuatan kaum Kristen Katolik yang sudah sangat siap menyerang Granada. Dalam posisi itu, umat Islam pada saat itu berikhtiar dengan mengajukan solusi kepada kedua pemimpin yang berselisih itu dengan saran agar membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Saran itu dimaksudkan agar kekuatan musuh tidak dapat mengambil peluang mengadakan serangan.

Namun ternyata kekuatan Kristen Katolik di bawah Raja Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari Castilla lebih cerdas melihat peluang itu. Kekuatan Kristen Katolik memanfaatkan perselisihan itu membuat  para penganut keristen bersemangat untuk bangkit kembali dengan meyebarkannya kesluruh dunia termasusk ke bagian Asia yaitu indonesia, Kebangkitan dengan terus menghembuskan isu dan fitnah untuk mengadu domba dua sisa kekuatan umat Islam di Spanyol itu. Pada saat itu, Azzaghel mengusasi lembah Aash, sedangkan Abu Abdullah Muhammad berada di Granada. Strategi Kristen Katolik mulai menuai hasil. Azzaghel tewas dibunuh oleh salah seorang pengkhianat dari Bani Ahmar yang bernama Yahya. Pada akhirnya, Yahya kemudian murtad dari Islam menjadi Nasrani dan hidup di Sevilla.

Yahya tak segan-segan menyerahkan Lembah Aash (yang sebelumnya dikuasai Azzaghel) kepada kekuasaan Raja Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari Castilla. Atas penyerahan daerah penting ini, ia memperoleh imbalan yang demikian melimpah berupa harta benda. Ia juga diperkenankan pergi ke Maghrib (Maroko). Tetapi sesampainya Yahya di Fez, ia ditangkap oleh penguasa muslim setempat. Ia secara nyata telah melakukan pengkhianatan dengan membantu pasukan Salibis, maka pantaslah bila harta bendanya dirampas kemudian dipenjara hingga mati. (Muhammd Quthub, 1993: 38)

Selanjutnya, Abu Abdullah Muhammad masih terus berusaha mempertahankan Granada sampai kemudian ia menyerah damai. Ia menerima perjanjian damai yang berarti kekalahan baginya. Pada tanggal 2 Rabi’ul Awal tahun 897 H (2 Januari 1492 M), Abu Abdullah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Granada dan Andalusia menyerahkan kunci Granada kepada Raja Ferdinand. Inilah hari berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia. Hari keruntuhan kekuasaan Islam setelah selama delapan abad Islam berkuasa sejak tahun 92 H. Saat meninggalkan istananya, Abu Abdullah menangis. Tentang ini ibunya berkomentar, “Kamu menangis seperti perempuan untuk sesuatu yang tak pernah kamu pertahankan sebaiknya laki-laki!”

Setelah penyerahan itu, Abu Abdullah diasingkan ke Alpujarras. Ia lalu pindah ke Maghrib (Maroko) dan berdiam di Fez. Ia menjalani sisa hidup di sana sebagai rakyat biasa hingga wafat pada tahun 1037 H / 1533 M. Sedangkan keturunannya hidup hingga tahun 1037 H. Mereka bekerja sebagai petugas amil di Lembaga Wakaf Islam yang mengurusi kaum fakir miskin.

Perjanjian untuk penyerahan Granada terdiri dari 67 Pasal. Pasal ini meliputi jaminan keselamatan jiwa, agama, dan harta benda. Jaminan untuk kehormatan, pemikiran, dan kebebasan. Pasal-pasal lain juga menjamin untuk tiap muslim bebas melakukan ritualnya; menghormati rumah peribadatannya, membebaskan para tawanan, memberi kebebasan seluas-luasnya bagi mereka yang ingin hijrah ke Maghrib (Maroko), bebas dari upeti dan pajak untuk beberapa tahun.

Namun kenyataannya, semua butir-butir perjanjian itu tak satupun dipatuhi setelah kaum Salibis berkuasa sepenuhnya. Bahkan mereka secara resmi membatalkannya secara sepihak dengan dasar keputusan demi kesucian Al Masih.

Selanjutnya, mereka menindas kaum muslimin dengan berbagai cara. Mereka memiliki kelompok-kelompok atau semacam pasukan untuk menekan kaum muslimin. Kelompok itu berada di bawah naungan gereja. Diantara organisasi-organisasi yang bertindak kejam dalam naungan gereja itu antara lain adalah:

Pahlawan Rangka
Benteng Angin
Mary Jacoba
Mary George
Wanita Kampak

Selain itu, kaum Kristen juga mengeluarkan selebaran anti kaum muslimin yang berasal dari para tokoh utama Katolik. Terutama setelah Turki Utsmani berhasil menguasai Konstantinopel (Istambul) pada tahun 857 H.

Ketika kelompok Bayyan ‘seorang tokoh sejarah muslim Granada’ memberontak, mereka berhasil membunuh beberapa penguasa. Mereka berontak atas kehormatannya yang diinjak-injak. Pemberontakan ini mendapat balasan dengan sangat kejamnya.

Pada tahun 1563 M, Faraj bin Faraj dari keturunan Bani Sarraj juga pernah memberontak. Mereka menyebar di pegunungan yang kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok muslimin di Granada, diantaranya adalah Hadonando Duflur, keturunan dari Khalifah Cordova. Ia lalu diangkat sebagai pemimpin dengan nama baru Muhammad bin Umayah. Pemberontakan pun kian meluas di daerah-daerah pegunungan. Lamanya hingga dua tahun. Korban banyak berjatuhan dari kedua pihak.

Namun dalam perkembangan berikutnya, Muhammad bin Umayah dicopot dari kepemimpinan oleh kaum muslimlin. Dia dinilai sangat lamban. Pimpinan yang baru diserahkan kepada Abdullah bin Abihi, seorang tokoh yang terkenal kegigihannya.

Kaum muslimin meneruskan pemberontakannya secara ksatria. Sementara tekanan Salibis semakin kejam. Akhirnya Abdullah, pemimpin mereka gugur. Dan oleh Salibis, kepala pemimpin Islam ini digantung di salah satu pintu gerbang Cordova selama tiga puluh tahun. Salibis Spanyol semakin melipatgandakan tindakan tiraninya. Kaum muslimin terus menerus diteror. Padahal mereka adalah orang-orang sipil.

Menurut pendataan para sejarawan, sebanyak kurang lebih tiga juta kaum muslimin dibantai, dibakar hidup-hidup, disiksa secara kejam, setelah jatuhnya Granada. Kaum muslimin menjadi berantakan. Akibatnya, pertanian, perindustrian, dan perdagangan pun hancur lebur karena ditinggal para ahlinya.

Sebagian kaum muslimin berupaya hijrah keluar dari Andalusia menuju negeri-negeri Islam terdekat. Kebanyakan menuju Maghrib. Namun sebagian diantara umat Islam juga banyak yang tidak mampu mengungsi ke negeri-negeri Islam. Mereka tidak memiliki pilihan kecuali menetap hidup di tanah Andalusia di bawah tekanan penguasa Kristen Katolik dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Mereka bersifat pasif. Walaupun mereka sudah bersikap pasif, golongan Salibis masih tetap memperlakukan secara tidak manusiawi. Kelompok ini biasa disebut sebagai kaum Mudejaris. Kata Mudejar berasal dari kosakata Arab Mudajjan yang dikorupsi dalam lidah Spanyol. Mudajjan sendiri memiliki arti ‘dijinakkan’.

Kaum muslim Mudejaris dikenal sebagai orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang khususnya arsitek dan seni. Karena keahlian mereka, kaum Mudejaris dipaksa mengukir patung-patung Yesus dan membangun gereja-geraja dengan indah. Hasil karya-karya mereka sampai sekarang masih dapat dilihat dan disaksikan. Diantaranya adalah gereja Santa Maria di Calatayud, Istana La Mota di Valladolid, Katedral Teruel dll.

Jika kaum muslimin yang tetap berusaha mempertahankan keyakinan agamanya disebut kaum Mudejaris, maka kaum muslim yang dipaksa pindah agama Kristen Katolik dijuluki kaum Mouresque atau Moriscos, artinya orang-orang dari Maghrib. Hidup mereka membaur dengan orang-orang Portugis dan Spanyol. Walau begitu mereka masih tetap menjaga bahasa Arab. Bahasa Arab dilatinkannya dan disebut Khimyada. Banyak buku yang ditulis dengan huruf latin tetapi sebenarnya masih berbahasa Arab. Lahirlah bahasa baru campuran seperti huruf Mesir kuno ketika ditulis dalam huruf Griek. Kaum Moriscos ini, meskipun secara dzahir mereka beragama Kristen, tetapi mereka tetap menjalankan ritual agama Islam sebisa mungkin yang dapat mereka kerjakan dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi.

Demikian informasi sejarah terpenting untuk semua kalangan terutama ummat islam di manapun berada begitu juga kami akan bahas Sejarah Keristen di indonesia untuk dapat lebih menambah wawasan ilmu pengetahuan anda ummat islam, umumnya bagi siapa saja yang membuka blog ini.Artikel terkait admin sajikan tentang bacaan sholat 5 waktu, semoga bermanfaat.

Sejarah Gereja Dan Permulaan keristen Di indonesia

Sejarah Gereja Dan Permulaan keristen Di indonesia. Untuk lanjutan sejarah-sejarah terpenting maka kami disini menulis juga catatan sejarah yang ada di indonesia yang masih ada hubungannya dengan sejarah yang ada di sepanyol yaitu kelanjutan orang-orang keristen yang telah berhasil menghitamkam dan menenggelamkan islam di granada,kemudian setelah menguasai sepanyol dan seluruh wilayah di sepanyol berada dalam genggaman orang keristen katolik.

Maka para penguasa keristen memberi perintah kepada para pendetanya untuk menyebarkan keristen keseluruh dunia dengan cara menjajah dan merebut kekuasaan dari pada negara yang di jajahnya, dengan mengadu dombakan orang-orang yang sedang berselisih antara si kerajaan kecil dan kerajaan besar,kerajaan kecil menjadi kesempatan orang-orang keristen untuk membantu memerangi kerajaan besar dengan memberikan peralatan senjata yang sangat lengkap

Ini Bukti sejarah keristen masuk keindonesia kerena orang keristen mendapat kesempatan emas untuk menyebarkan agamanya di indonesia atas perintah penguasanya yang ada di sepanyol melalui orang-orang portugis,dengan pasukan tentaranya yang terlatih dan gigih beserta para pendetanya yang sangat pasih dengan alkitab. di indonesia penyebaran keristen sangat cepat di terimanya
oleh kelompok-kelompok yang sangat benci dengan islam,apalagi kondisi islam yang ada diindonesia juga sudah mulai melemah kerena benteng kekuatan islam yang ada di granada (sepanyol) hancur-hancuran

Sejararah Gereja Dan Permulaan keristen Di indonesia

Bagi ummat islam di manapun anda berada semua ini sudah sekenario Alloh Swt merupakan ujian besar yang harus di terima oleh ummat islam seluruh dunia, setelah kekuasaan yang baik adalah Panji-panji islam, Alloh swt pasti akan memberikan kekuasaan yang jelek adalah orang-orang bathil yang selalu di pengaruhi oleh iblis laknatulloh untuk menjadi temannya di Neraka yang di kutuk dan di laknat Alloh Swt,kekuatan yang bathil ini Merupakan kekuatan terpanjang sampai akhir jaman dengan Munculnya Mujadid terakhir Imam Mahdi dan Nabi isa As,bila sudah muncul dua hamba Alloh yang mulia ini kekuasaan yang bathil kembali di hancurkan menjadi kekuasaan yang baik, islam di seluruh dunia gemilang dan penuh dengan rahmat Alloh swt.

Tentang Sejarah Berdirinya Gereja

Sejarah munculnya gereja di Indonesia dari sisi Kristen dimulai ketika orang-orang Portugis tiba di Kesultanan Malaka yang kini menjadi Malaysia pada tahun 1509 demi mencari kekayaan yang mereka punya. Awalnya, hubungan mereka berjalan baik hingga terjadi penundukkan Goa dan beberapa konflik antara Muslim dan Kristen yang menyebabkan kaum-kaum Muslim di Malaka berpendapat bahwa kedatangan Kristen Portugis hanya akan membawa masalah bagi mereka. Yang memperparah kejadian ini adalah penundukan Malaka, dimana kejadian tadi dinilai menjadi titik balik yang membuat seluruh umat Muslim Malaka menciptakan suatu sentimen yang melawan Kristen Portugis. Perlawanan juga muncul dari umat Muslim di Aceh, dan juga kekaisaran Ottoman. Meskipun pihak Portugis berhasil membangun beberapa gereja, kedatangan mereka di Malaka lebih dinilai sebagai kesan negatif dibandingkan tujuan awal mereka untuk mempromosikan agama tersebut.

Di sisi Katolik, Mattiussi yang merupakan seorang biksu Italia mengaku bahwa ia ditugaskan oleh sang Paus untuk berlayar dari Padua menuju Sumatra sebelum akhirnya tiba di Jawa dan Banjarmasin. Misi ini dimulai pada tahun 1318, dan diakhiri dengan kepulangannya melalui darat melintasi Tiongkok, Vietnam, serta Eropa ditahun 1330. Di catatan yang ia buat, tertulis juga sebuah kerajaan Jawa yang memiliki corak Hindu-Buddha, seperti pada Majapahit. Misi tersebut dinilai sebagai misi pionir, dimana karena misi ini gereja Katolik bisa memiliki Informasi tentang kondisi Asia, dimana pada waktu itu belum ada sama sekali pengaruh agama Katolik di benua tersebut

Ketika terjadi pendudukan Malaka pada tahun 1511 oleh pihak Portugis, misionaris Katolik juga seketika tiba di daerah itu. Salah satu dari yang paling terkenal dan penting dalam perkembangan sejarah gereja di Indonesia adalah Francis Xavier. Ketika orang-orang Portugis diusir keluar Ternate pada tahun 1574, banyak umat Katolik di daerah tersebut yang dibunuh atau secara paksa diubah keyakinannya menjadi Islam. Pada tahun 1605, orang-orang Katolik yang masih tersisa dipaksa lagi untuk menganut ajaran baru, yaitu Protestan. Baru pada tahun 1808 dibawah pimpinan Daendels, umat Katolik diberikan kebebasan untuk menganut agama mereka sendiri.

Kembali menelusuri sejarah gereja Kristen adalah ketika pada tahun 1972, seorang asli Bali yang bernama I Wayan Mastra memeluk agama Kristen ketika ia sedang bersekolah di sekolah Kristen di pulau Jawa. Ia kemudian menjadi ketua GKPB dan memulai proses Balinisasi, dimana ia mencoba membuat gereja-gereja Kristen di Bali menjadi lebih terbuka akan budaya-budaya Bali, mengikuti gereja Katolik Bali yang sudah terlebih dahulu melakukan hal seperti itu.

Sejarah gereja di Indonesia terutama gereja Katolik kembali mengalami perubahan ketika pada tahun 1896, seorang pendeta dari Belanda yang bernama Frans van Lith datang ke Muntilan, Jawa Tengah. Awalnya, apapun yang ia coba tidak berakhir baik namun akhirnya pada tahun 1904 ada 4 pemuka kota yang berasal dari Kalibawang datang ke rumahnya dan meminta pengajaran tentang agama yang ia bawa. Pada tanggal 15 Desember di tahun yang sama, 178 masyarakat Jawa akhirnya dibaptis di daerah Semagun. Selain itu, Van Lith juga mendirikan sekolah untuk guru di Muntilan dimana sekolah ini diberi nama Normaalschool pada tahun 1900 dan berubah menjadi Kweekschool pada 1904. Pada tahun 1911, Van Lith kembali mendirikan Seminari Menengah yang berhasil mencetak orang-orang penting di sejarah Katolik Indonesia yaitu FX Satiman SJ, Albertus Soegijapranata SJ, dan Adrianus Djajasepoetra SJ.

Gereja Kristen sendiri, meskipun agamanya tetap menjadi minoritas di berbagai daerah, tidak berhenti menyebarkan ajarannya. Sehingga pada tahun enampuluhan, banyak penganut komunisme dan masyarakat Tiongkok yang beralih ke Kristen karena adanya jargon anti-komunis dan anti-Confucian. Pada masa-masa ini juga mulai banyak dibuat sekolah-sekolah Kristen yang mengajarkan tentang agama tersebut. Hingga saat ini, Gereja Kristen masih terus berusaha untuk berkembang lebih pesat dari perkembangannya sebelumnya.

Uskup pertama di gereja Katolik Indonesia adalah Albertus Soegijapranata SJ yang diangkat pada tahun 1940. Delapan tahun berikutnya pada di 20 Desember, dua penganut bernama Sandjaja serta Hermanus Bouwens dibunuh di sebuah desa yang bernama Kembaran, dimana akhirnya Sandjaja dinilai adalah martir dari gereja Katolik di Indonesia. Beberapa pahlawan Indonesia yang terkenal juga merupakan seorang penganut Katolik seperti Agustinus Adisoetjipto, Ignatius Slamet Riyadi, dan Yos Soedarso. Mungkin fakta-fakta ini juga lah yang membuat sejarah gereja di Indonesia, terutama gereja Katolik berkembang dengan sangat pesat. Meski begitu, pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000 terjadi sebuah kerusuhan yang menargetkan para penganut Katolik dan Kristen. Untungnya pada saat itu, Abdurrahman Wahid yang menjadi pemimpin Nahdatul Ulama mampu menekan antipati yang ada diantara pihak dengan agama yang berbeda-beda itu

Di sisi Katolik, Mattiussi yang merupakan seorang biksu Italia mengaku bahwa ia ditugaskan oleh sang Paus untuk berlayar dari Padua menuju Sumatra sebelum akhirnya tiba di Jawa dan Banjarmasin. Misi ini dimulai pada tahun 1318, dan diakhiri dengan kepulangannya melalui darat melintasi Tiongkok, Vietnam, serta Eropa ditahun 1330. Di catatan yang ia buat, tertulis juga sebuah kerajaan Jawa yang memiliki corak Hindu-Buddha, seperti pada Majapahit. Misi tersebut dinilai sebagai misi pionir, dimana karena misi ini gereja Katolik bisa memiliki Informasi tentang kondisi Asia, dimana pada waktu itu belum ada sama sekali pengaruh agama Katolik di benua tersebut.

Ketika terjadi pendudukan Malaka pada tahun 1511 oleh pihak Portugis, misionaris Katolik juga seketika tiba di daerah itu. Salah satu dari yang paling terkenal dan penting dalam perkembangan sejarah gereja di Indonesia adalah Francis Xavier. Ketika orang-orang Portugis diusir keluar Ternate pada tahun 1574, banyak umat Katolik di daerah tersebut yang dibunuh atau secara paksa diubah keyakinannya menjadi Islam. Pada tahun 1605, orang-orang Katolik yang masih tersisa dipaksa lagi untuk menganut ajaran baru, yaitu Protestan. Baru pada tahun 1808 dibawah pimpinan Daendels, umat Katolik diberikan kebebasan untuk menganut agama mereka sendiri.

Kembali menelusuri sejarah gereja Kristen adalah ketika pada tahun 1972, seorang asli Bali yang bernama I Wayan Mastra memeluk agama Kristen ketika ia sedang bersekolah di sekolah Kristen di pulau Jawa. Ia kemudian menjadi ketua GKPB dan memulai proses Balinisasi, dimana ia mencoba membuat gereja-gereja Kristen di Bali menjadi lebih terbuka akan budaya-budaya Bali, mengikuti gereja Katolik Bali yang sudah terlebih dahulu melakukan hal seperti itu.

Sejarah gereja di Indonesia terutama gereja Katolik kembali mengalami perubahan ketika pada tahun 1896, seorang pendeta dari Belanda yang bernama Frans van Lith datang ke Muntilan, Jawa Tengah. Awalnya, apapun yang ia coba tidak berakhir baik namun akhirnya pada tahun 1904 ada 4 pemuka kota yang berasal dari Kalibawang datang ke rumahnya dan meminta pengajaran tentang agama yang ia bawa. Pada tanggal 15 Desember di tahun yang sama, 178 masyarakat Jawa akhirnya dibaptis di daerah Semagun. Selain itu, Van Lith juga mendirikan sekolah untuk guru di Muntilan dimana sekolah ini diberi nama Normaalschool pada tahun 1900 dan berubah menjadi Kweekschool pada 1904. Pada tahun 1911, Van Lith kembali mendirikan Seminari Menengah yang berhasil mencetak orang-orang penting di sejarah Katolik Indonesia yaitu FX Satiman SJ, Albertus Soegijapranata SJ, dan Adrianus Djajasepoetra SJ.

Gereja Kristen sendiri, meskipun agamanya tetap menjadi minoritas di berbagai daerah, tidak berhenti menyebarkan ajarannya. Sehingga pada tahun enampuluhan, banyak penganut komunisme dan masyarakat Tiongkok yang beralih ke Kristen karena adanya jargon anti-komunis dan anti-Confucian. Pada masa-masa ini juga mulai banyak dibuat sekolah-sekolah Kristen yang mengajarkan tentang agama tersebut. Hingga saat ini, Gereja Kristen masih terus berusaha untuk berkembang lebih pesat dari perkembangannya sebelumnya.

Uskup pertama di gereja Katolik Indonesia adalah Albertus Soegijapranata SJ yang diangkat pada tahun 1940. Delapan tahun berikutnya pada di 20 Desember, dua penganut bernama Sandjaja serta Hermanus Bouwens dibunuh di sebuah desa yang bernama Kembaran, dimana akhirnya Sandjaja dinilai adalah martir dari gereja Katolik di Indonesia. Beberapa pahlawan Indonesia yang terkenal juga merupakan seorang penganut Katolik seperti Agustinus Adisoetjipto, Ignatius Slamet Riyadi, dan Yos Soedarso. Mungkin fakta-fakta ini juga lah yang membuat sejarah gereja di Indonesia, terutama gereja Katolik berkembang dengan sangat pesat. Meski begitu, pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000 terjadi sebuah kerusuhan yang menargetkan para penganut Katolik dan Kristen. Untungnya pada saat itu, Abdurrahman Wahid yang menjadi pemimpin Nahdatul Ulama mampu menekan antipati yang ada diantara pihak dengan agama yang berbeda-beda itu

Demikian adanya penulisan ini masih kami tuliskan sejarah berikutnya  yaitu perang salib,moga sekiranya anda yang muslim di manapun berada utamakan anda lebih bersabar dan tetap istiqomah shalat yang lima Waktu itu lebih penting untuk banyak memohon kepada Alloh agar kita yang muslim di berikan kekuatan Iman dan islam, terlindung dari bahaya misionaris yang akan menghancurkan ke imanan kita amiiin. Artikel terkait admin ajikan tentang bacaan sholat 5 waktu, semoga bermanfaat.